Tukang Becak Menangis, Tak Mampu menggunakan dana manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) Uang dari pemerintah
Warga Kecamatan Tunjungan, kabupaten Blora, jawa tak kuasa menahan air matanya saat mengadu ke kantor Sekretariat Dewan Pendidikan Kabupaten Blora, Rabu (24/1/2018). Sebagai wali murid, tukang becak itu mengaku keberatan dengan beban biaya yang harus ia tanggung untuk membayar iuran komputer sebagai fasilitas penunjang Ujian Nasional Berbasis Komputer di SMP Negeri 5 Blora.
Jujur saya sangat kebingungan setelah anak saya meminta uang Rp 300.000 Untuk iuran itu padahal paling lambat Februari. Berapa sih penghasilan tukang becak seperti saya di zaman modern ini? Bisa makan saja, kami sudah bersyukur," kata Muhaimin sambil menitikkan air mata.
biaya yang tinggi untuk menyekolahkan di sekolah milik pemerintah. Semula, ia berharap besar akan memperoleh keringanan biaya menyusul anaknya itu termasuk siswayang berprestasi.
anak saya karena permintaan iuran komputer belum bisa saya penuhi Anak saya itu cerdas, sejak
kelas 7 hingga 9 selalu masuk rangking sepuluh besar.tidak usah disebut siapa identitas anak saya ke Sekretariat Dewan Pendidikan Kabupaten Blora. Seorang wali murid SMPN 5 Blora lainnya, Sugianto (59) mengaku kecewa dengan keputusan pihak sekolah yang meminta uang sumbangan Rp 300.000 kepada siswa untuk keperluan membeli peralatan komputer di sekolah.
Tak punya pilihan lain, akhirnya melunasinya dengan menggunakan dana manfaat Program indonesia Pintar (PIP) Uang dari pemerinta itu kembali saya setoran kepada sekolah untuk membeli komputer, terang Sugianto,duda enam anak itu.

Comments
Post a Comment