Dengan Balas Dendam Pedang Pemenggal Ular Siska Hotz
Dengan Balas Dendam Pedang Pemenggal Ular Siska Hotz
Berhasilkah rencana mereka?
Berhasilkah Siska melaksanakan pembalasan dendam kesumatnya?
Branowo memang menepati janjinya.
Nggak sampai seminggu, Bribiek sudah ada dalam pesawat yang mengantarkan dia dan keluarganya balik ke Tanah Air.
Ah, akhirnya, hidup mewah kembali... Berhenti hidup menggembel di padang pasir yang isinya cuma onta...
Sesampainya di bandara, Bribiek sempat mampir dulu di toilet, karena kebelet menahan buang air kecil. Dan di sinilah terjadi peristiwa mengguncangkan yang hampir mencelakai Bribiek.
Saat enak-enak buang air kecil, tiba-tiba ada sosok berkerudung dan memakai penutup wajah muncul di pintu masuk toilet. Jaraknya sekitar 10 meter dari Bribiek.
“Biek…”, sahut suara lembut sosok tersebut.
Bribiek kaget bukan kepalang. Bulu kuduknya meremang. Siska Hotz, pikirnya. Bagaimana mungkin dia ada di sini. Apa dia datang untuk menuntaskan pembalasan dendamnya?
“Wooo…. Tolongin ana, Wo…!!!”, teriak Bribiek panik.
Dengan gerakan yang sangat gesit, sosok tersebut bergerak mendekat sambil berusaha menyerang Bribiek. Sebilah pisau panjang berkilat berkelebat, menyasar ke arah Bribiek.
Panik, Biribik buru-buru berusaha menutup celananya. Tapi “burung”-nya malah terjepit risleting celananya.
Untungnya, saat itu juga, muncul sosok yang bergerak cepat dari dalam salah satu kubikel toilet. Branowo, yang bersembunyi di sana, langsung muncul menghadang sosok penyerang tersebut.
Dengan gerakan gesit, Branowo menangkis pisau tersebut dengan tangan kiri. Dan di saat yang sama, dia bergerak menghantamkan bahunya ke badan si penyerang tersebut sambil mengerahkan tenaga dalam Ilmu Telapak Besi.
Dihantam tenaga dalam sekuat itu, sosok tersebut mencelat menabrak dinding toilet, sampai dinding tersebut jebol berantakan. Sosok tersebut muntah darah. Darahnya berceceran di lantai.
Namun demikian, sosok tersebut masih bisa melarikan diri menggunakan ilmu peringan tubuh, walaupun masih tertatih-tatih sambil memegani dadanya.
“Kok nggak lo kejar, Wo?”, tanya Bribiek.
“Dah, kalem. Kena jurus gua, nggak bakalan bisa lagi dia celakain elo. Yang kena jurus gua, tenaga dalamnya pasti musnah. Tanpa tenaga dalam, mana bisa memainkan jurus Pedang Pemenggal Ular, Biek.”, kata Branowo.
“Ah, syukur alhamdulilah. Lega hati ana. Untung Allah memberkati ana, dengan kasih ana sekutu kuat macam antum, Wo.”, kata Bribiek.
“Udah, tenang aja. Sekarang ayo ke imigrasi, terus ambil bagasi lo, Biek.”, kata Branowo.
Maka, bergegaslah mereka menuju imigrasi.
Selepas dari imigrasi, Branowo dan Birbiek langsung menuju ke tempat pengambilan bagasi. Di sana, ada pemuda berseragam dan berbadan kecil yang mendekati Bribiek, menawarkan untuk mengangkut bagasi. Wajahnya halus, tapi berjenggot lebat. Bribiek menolak tawarannya, karena menganggap dia perlu porter yang berbadan lebih kekar dan meyakinkan.
Saat kebetulan bertatapan dengan pemuda kecil itu, Bribiek punya perasaan aneh pernah melihat mata mirip pemuda itu di suatu tempat, lama sekali di masa lalu.
Sesampainya di gerbang, Bribiek sumringah. Sagiman ternyata mengikuti pesannya untuk menyiapkan penyambutan.
Ribuan umatnya menyambut di gerbang. Bribiek merasa seperti pahlawan yang balik dari medan perang, dan tiba untuk dieluk-elukan oleh pemuja-pemujanya.
“Bribiek, Bribek, Bribiek, Bribiek…”, seru mereka berulang-ulang.
Saat Bribiek sedang di awang-awang, asik menyesapi nikmatnya pemujaan penyembahnya, dia baru sadar bahwa suasana yang tadinya ramai tiba-tiba jadi hening. Terdengar suara beberapa orang yang menahan nafas.
Lalu terdengar teriakan panik.
“Daraah… daraaahhh…. Ya Allah… imam besar berdarahhhh….”, teriak seorang emak-emak di tengah kerumunan. Disambut dengan teriakan panik dari berbagai sudut kerumunan.
Tiba-tiba saja, Bribiek merasakan perih di selangkangannya. Dengan ngeri, Bribiek menatap ke bawah, hanya untuk melihat cairan merah kental mengalir deras, membasahi jubah kebesarannya.
Setelah itu, semua gelap.
Saat sadar, Bribiek sudah di ruangan ICU. Dengan berat hati, dia harus menerima kenyataan bahwa “pedang pusaka”-nya buntung, ditebas putus tanpa dia sadari.
Upaya dokter untuk menyambung kembali juga tidak berhasil, karena selangkangannya sudah terlanjur membusuk terkena racun yang melambari pisau yang memotong “pedang pusaka”-nya.
Maka, jadilah Bribiek pria tanpa alat kelamin.
Sejak kehilangan “pedang pusaka”-nya yang jadi sumber kekuatannya, Bribiek berubah drastis jadi pria loyo, hidup tanpa semangat.
Dia jadi malas-malasan mengkomandoi Laskar Pentung.
Dan tanpa komando, Laskar Pentung makin kocar-kacir. Akibatnya, tak ada lagi bohir yang mau mensponsori Laskar Pentung, termasuk Branowo.
Dan akhirnya, Laskar Pentung bubar.
Branowo akhirnya kembali memakai preman kesayangannya dulu, gerombolannya Hermes. Walaupun bukan kelompok preman berjubah agama macam Laskar Pentung, setidaknya gerombolan Hermes masih gerombolan preman.
Namun ternyata akhirnya sama saja. Gerombolan ini sudah dijinakkan kepolisian sejak Jenderal Toto menjebloskan Hermes ke dalam penjara. Upaya Hermes mengacau pun minim, setengah niat, nggak menggigit seperti hasilnya Laskar Pentung saat sedang jaya-jayanya.
Maka, Branowo terpaksa gigit jari. Niat membatalkan pelantikan Gogowi gagal. Sudah keluar duit banyak, hasilnya sia-sia.
Semua gara-gara ada yang berhasil menebas putus “pedang pusaka”-nya si Bribiek. Apes, apes…
Siska Hotz kini lega. Kini dia bisa move on.
Walau terkadang dia sakit hati juga mengingat yang sudah terjadi, tapi setidaknya dendam kesumatnya sudah terbalas.
Sakit hatinya saat mengetahui kalau dia cuma diperalat sebagai pemuas nafsu Bribiek. Lantas ditinggalkan secara pengecut untuk berhadapan dengan proses hukum, di saat Bribiek juga punya andil dalam kasus yang dia hadapi. Dan dia harus mengalami sakitnya jadi tahanan akibat ulah Bribiek.
Sakit hatinya itu menyebabkan dia akhirnya menekuni ilmu silat warisan keluarga Hotz, ilmu Pedang Pemenggal Ular. Bagai kerasukan, Siska berlatih tak kenal lelah, siang dan malam. Sampai akhirnya dia menguasai ilmu pedang itu secara mumpuni.
Walau demikian, Siska tahu bahwa Bribiek akan dikawal oleh Branowo.
Dan Siska belum gila untuk menghadapi ilmu tangguh Branowo secara langsung.
Maka, dia menghubungi temannya, Indah, untuk bekerjasama menipu Branowo dan Bribiek.
Indah cocok untuk menghadapi Branowo, karena Indah menguasai jurus pengalih tenaga dalam tingkat tinggi, Ilmu Memutar Langit Memindah Bintang.
Ya, Indahlah yang berpura-pura menyerang Bribiek di toilet bandara. Saat dihajar Branowo, Indah mengerahkan ilmunya untuk mengalihkan efek tenaga dalam Prabowo. Pukulan Branowo sebenarnya menghantam udara kosong, sedangkan Indah tidak terluka. Dinding yang hancur itu juga karena tenaga pukulan Branowo yang dialihkan oleh Indah, bukan karena terhantam badan Indah.
Darah yang keluar dari mulut Indah itu darah palsu, yang dimasukkan dalam plastik. Saat dipukul, Indah langsung menggigit plastik tersebut, sehingga darah tampak berceceran dari mulutnya.
Lalu secepat kilat dia kabur dari situ.
Karena Indah memakai penutup muka, baik Bribiek maupun Branowo tidak tahu kalau itu bukan Siska.
Lalu di manakah Siska?
Dialah yang menyamar jadi pemuda kecil berjenggot yang menawarkan bantuan untuk membawa bagasi Bribiek.
Saat mereka hanya berjarak kurang dari semeter, Siska dengan cepat langsung menebas “pedang pusaka”-nya Bribiek dengan belati kecil yang disembunyikannya. Gerakannya tak terlihat saking cepatnya.
Faktor lain yang menolong keberhasilan Siska adalah karena saat itu, Branowo dan Bribiek sama-sama lengah. Mereka mengira Siska sudah berhasil diatasi, jadi kewaspadaan mereka menurun. Dan itulah saatnya Siska berhasil.
Sekejap, Siska sempat kuatir Bribiek akan mengenalinya saat mereka bertatapan mata.
Ya, tatapan yang diingat Bribiek itu adalah tatapan Siska saat mereka sedang hot-hotnya kuda-kudaan. Saat dunia mereka sedang indah-indahnya, saat Siska hanyut di awan menikmati asmara terlarangnya dengan Bribiek.
Untungnya, Bribiek lupa, dan tak menyadari sekelebat sinar dendam di mata Siska. Sehingga Siska bisa melakukan balas dendamnya tanpa dikenali.
Sampai hari ini, Branowo masih penasaran. Bagaimana mungkin Siska bisa menebas putus “pedang pusaka”-nya Bribiek tanpa sepengetahuannya.
Yang jelas, sekarang dia kehabisan akal, sehingga tidak bisa bertingkah aneh-aneh.
Kondisi negara pun akhirnya jauh lebih tenteram, karena Branowo dan Bribiek berhenti mengacau.
Gogowi tentu saja bersyukur, dan diam-diam menghadiahi kenaikan pangkat pada kepala intelejen negara.
Sedikit yang tahu bahwa sebenarnya, Siska Hotz-lah yang paling berjasa dalam peristiwa ini.

Comments
Post a Comment