Ninoy Karundeng Kena Batunya, Lupa Adi Demen Babi
Ninoy Karundeng Kena Batunya, Lupa Adi Demen Babi
Wajahnya pucat, raut wajahnya tak mampu menyembunyikan kegetiran dan ketakutan yang terselubung. Saat berbicara pun kadang lancar kadang terbata-bata, tidak sepadan dengan gaya tulisannya yang lancar mengalir bagaikan air bah yang dasyat menghantam siapa saja yang coba-coba menghadang.
Begitu juga saat dia menulis pernyataan di atas materei, gesture tubuhnya kaku dan terkesan seperti dipaksakan seolah-olah biasa-biasa saja, persis seperti orang yang sedang menandatangani Berita Acara Pemeriksaan di ruang Penyidik Kepolisian.
Ini videonya: https://youtu.be/7DBEnXX5VTk
Terkadang memang tulisan seseorang yang terkesan gahar nan sangar dan begitu nendang tidak sinkron dengan sosoknya di dunia nyata. Ini mengingatkan saya akan sosok seorang penulis top markotop di dunia maya yang saat diundang ke acara ILC di tvone tidak menguasai apa yang diucapkannya sehingga menjadi bahan tertawaan dan olok-olok.
Performancenya di TV tidak menguasai ilmu politik seperti apa yang selama ini adalah gaya dan tema tulisannya, gaya bicaranya melempem terkesan dipaksakan, opini yang dilontarkannya pun hanyalah logika umum saja, tawar dan tidak berarti.
Saya tertawa, tapi saya juga menyadari akan kapasitas saya yang mungkin saja akan lebih buruk jika saya dalam kondisi yang sama. Beberapa tulisan-tulisan saya memang terkesan gahar, tapi kalau di dunia nyata, mungkin saya lebih buruk dari Ninoy Karundeng atau si penulis opini top marlotop itu yang pamornya kini redup setelah tampil di acara ILC di tvone.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kasus yang dialami Ninoy Karundeng, memang kita sebagai penulis lain kali harus berhati-hati, bahasa gamblangnya jangan sok jago. Minimal data dan sumber berita yang dicomot harus kuat dan sahih.
Jangan ambil sumber dari berita yang sedang bermasalah, karena itu akan menjadi boomerang dan senjata makan tuan bagi diri sendiri.
Saya bukan bermaksud menggurui karena saya masih dalam tahap proses belajar. Saya tidak mau dibilang seolah-olah saya ini maha benar, maha tahu, lebih pintar dan lebih benar dari orang lain.
Kasus yang dialami Ninoy ini akhirnya membuka mata saya bahwa di atas langit masih ada langit, makanya jangan takabur.
Saya pernah diajarin seorang penulis terkenal yang suka baca gaya bahasa dalam tulisan-tulisan saya. Beliau memberitahu saya kalau menulis itu minimal harus ada unsur si Adi Demen Babi.
Jangan tertawa atau sengak dulu. Yang dimaksud dengan si Adi Demen Babi adalah singkatan dari Siapa, Apa, Di Mana, Dengan Apa, Mengapa, Bagaimana, Bilamana.
Menurut saya, entah kalau yang lain, tampaknya sebagai penulis yang top markotop, Ninoy Karundeng lupa mengupas unsur si Adi Demen Babi itu. Sehingga kena batulah dia. Khususnya di unsur Bagaimana. Si Ninoy tak mampu mengupas lebih dalam dan membuktikan bagaimana persengkokolan itu dilakukan seperti tudingannya itu.
Sehingga akibatnya fatal, bukan hanya dia menghapus artikelnya itu, lalu minta maaf kepada PSI dan membuat Surat Pernyataan yang ditandatanganinya di atas Materei, akan tetapi dia juga harus berhadapan dan minta maaf kepada Cyrus Network.
Ninoy telah melakukan kesalahan fatal karena mengutip berita link di media online yang ternyata berita tersebut sudah out-dated sehingga sangat merugikan Cyrus Network.
Tapi ya sudahlah, si Ninoy sudah minta maaf. Video minta maafnya itu juga sudah viral. Kenyataan pahit itu merupakan sanksi sosial yang diterimanya, mau taruh dimana muka dan rasa malunya itu.
Saran saya buat PSI tidak usah diperpanjang lagi kasusnya itu, apalagi sampai dilaporkan ke Polisi segala. Permintaan maafnya saja sudah cukup membuatnya menderita lahir dan bathin. Karena musuh terbesar bukanlah seorang Ninoy, akan tetapi kebathilan para penjahat berdasi yang merusak NKRI tercinta ini.
Jujur saya katakan saya pribadi mendukung perjuangan PSI sepenuhnya. Untuk mewujudkan dukungan saya kepada PSI, saya mencoblos Tsamara saat pemilu 2019 kemarin agar bisa berjuang di DPRD DKI.
Saya percaya PSI akan menjadi partai yang mampu memperjuangkan apa yang menjadi masalah-masalah krusial di negara tercinta ini. Dan saya percaya, sosok yang cerdas dan berani seperti Tsamara akan mampu mewujudkannya berjuang melalui DPRD DKI.
Kembali ke kasus Ninoy Karundeng. Sebagai ungkapan rasa jiwa korsa saya sebagai sesama penulis kepada bung Ninoy, saya hanya bisa mengucapkan prihatin yang sedalam-dalamnya atas kasus yang menimpanya itu.
Cukup sudah jadi pembelajaran bagi Ninoy untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya tersebut karena hanya akan berdampak buruk bagi hidup. Tidur tak enak, makan pun tak nikmat lagi.

Comments
Post a Comment